Delapan menit waktu yang cukup singkat. Kalau hanya berdiam diri tanpa suara, tanpa melakukan aktifitas apapun, akan merasa bosan dan terasa begitu lama. Delapan menit yang aku lalui cukup padat dan berkualitas, tidak ada jeda untuk terdiam ataupun kebingungan. Semuanya padat dengan pembicaraan. Delapan menit ini cukup berarti setelah 19 hari aku lalui. Terlalu banyak perubahan dari aku, tapi tidak ada yang berubah darinya. Perasaan tegang, deg-degan, gemetaran, bingung, sampai terasa ingin mual, aku rasakan di delapan menit itu.
Tujuannya hanya satu, mengembalikan miliknya yang ada padaku. Tapi dari tujuan itu cukup banyak yang kita perbincangkan. Entah apa yang aku rasakan di delapan menit itu. Bahagia? Aku cukup bahagia. Sedih? Iya, aku sangat sedih. Menyesal? Tidak, aku selalu menghargai semua keputusan yang telah diambil. Marah? Iyah, aku marah dengan diri aku. Selalu memohon untuk mendapatkan kesabaran yang berlimpah. Sebagai perempuan aku sangat lemah dan rapuh. Lalu apa yang membuat aku tegar? Keadaan. Keadaan yang membuat aku jauh lebih tegar, sabar, ikhlas dan menerima semuanya dengan berbesar hati. Teman. Teman yang membuka pikiran aku jauh lebih terbuka dari sebelumnya. Keluarga. Keluarga yang mengingatkan aku akan seberapa pentingnya komunikasi yang baik dan tetap menjaga silahturahmi kepada orang yang paling dekat. Allah. Allah yang memiliki segalanya, memiliki jiwa dan raga ini, selalu diingatkan akan Dia yang selama ini aku terlupa.
Delapan menit yang cukup berkualitas, aku tidak ingin mengulang, karena air mata sudah harus aku coba untuk berhenti keluar lagi. Aku sudah lelah, hati aku sudah letih, pikiran aku sudah harus tenang, harus sudah bisa serius kepada semua yang telah aku hentikan. Terima kasih untuk delapan menit ini.
No comments:
Post a Comment